Tambo: Media Anak Muda yang Damai dan Positif

 

Akhir tahun 2017 lalu, tepatnya pada 21 Desember 2017, di-launching sebuah media baru untuk anak muda. Media tersebut berisi konten-konten menarik untuk anak muda yang bisa disimak di www.tambo.co.id.

Peluncuran Tambo Media, nama media baru tersebut, dilaksanakan di Museum Sandi, Yogyakarta. Kegiatan tersebut juga disertai sebuah Seminar “Jurnalisme Damai dan Konten Positif untuk Anak Muda” dengan bekerja sama dengan Center for Democratization Studies. Pembicara kunci, Aryo Subarkah Eddyono, menjelaskan dua hal tersebut, yaitu mengenai jurnalisme damai dan konten positif. Pembicara yang lain, Agus Mulyono yang merupakan Person in Charge Cedes, dan Bernando B. Sujibto juga menyampaikan kondisi yang terjadi di Indonesia yang menguatkan pendapat bahwa pemahaman atas jurnalisme damai sangatlah penting.

Pada pokoknya, jurnalisme damai merupakan kebutuhan konsep jurnalisme yang ingin berkontribusi dalam menyelesaikan konflik yang terjadi di masyarakat. Caranya adalah dengan menyediakan konten positif yang faktual dan aktual agar tetap menarik untuk dibaca. Selain itu, penting juga dilakukan penguatan pemahaman etis bagi para jurnalis agar berita yang ditulis atau diciptakan akan lebih akurat. Untuk itu, disinilah pentingnya keberadaan Tambo Media yang memposisikan medianya berbeda dari media online kebanyakan yang cenderung memberitakan sesuatu secara bombastis.

Tambo merupakan sebuah platform media terintegrasi dimana di dalamnya memuat berbagai konten yang bercerita tentang lifestyle, travel, kuliner, infodata, komunitas, kreatif, fashion dan hiburan. “Melalui artikel yang bernuansa kekinian diharapkan generasi milenial dapat menggali informasi yang bermanfaat dan dikemas dengan bahasa yang ringan,” ujar Kuncoro Sejati, pemilik Tambo Media, ketika menyampaikan sambutannya dalam peluncuran media alternatif ini.

 

 

2017 ASIA YOUNG LEADERS FOR DEMOCRACY

Nor Hidayah, Law Researcher, accepted for the Taiwan Foundation for Democracy’s 2017 Asia Young Leaders for Democracy (AYLD) Program. After a rigorous selection process involving applicants from Asian countries, Nor Hidayah joined other distinguished young leaders in Taipei for the program between July 31 and August 8, 2017.

As a member of the Taiwan Foundation for Democracy’s (TFD) 4th Asia Young Leaders for Democracy (AYLD), Nor Hidayah, adopted a joint declaration vowing to promote democracy and combat the democratic recession, as all participants marked the conclusion of the nine-day workshop in Taipei.

The declaration issued by the 2017 AYLD’s 20 members, which come from 13 Asian countries and elsewhere, seeks to ensure democracy and fundamental rights in Asia through seven areas. They include combating alternative models of democracy; fighting against disinformation; rejecting extremism; refusing discrimination against migrants, minority groups and the LGBTQIA community; supporting political participation of unrepresented groups; ensuring free and fair elections; and combating uneven development.

 

 

 

 

GRANT FOR 9TH ISTANBUL SEMINARS 2016: RELIGION, RIGHTS AND THE PUBLIC SPHERE

 

 

 

Luthfi Widagdo Eddyono, on behalf of Cedes, has participated in the Istanbul Seminars 2016 with a grant from the Reset-Dialogues on Civilizations. The 9th edition of the Istanbul Seminars held on May 24-28, 2016 with the topic: “Religion, Rights and the Public Sphere.” The conference takes place at Istanbul Bilgi University and attracts a considerable audience of scholars and students from all over the world. The Istanbul Seminars 2016 have discussed how much religious pluralism is a matter of politics, law and the economy and to what extent it also concerns theology.

2016 Asia Young Leaders for Democracy (AYLD)

 

Person in Charge, Agus Mulyono, accepted for the Taiwan Foundation for Democracy’s 2016 Asia Young Leaders for Democracy (AYLD) Program. After a rigorous selection process involving applicants from 23 countries, Agus will join other distinguished young leaders in Taipei for the program between August 7 and August 20, 2016. The program features lectures by eminent scholars and practitioners in the fields of human rights and democracy.